18 Februari 2008

Kaca Patri Mematri Brian Yaputra

Jika Anda sempat mengunjungi Disneyland di Hongkong, perhatikan keindahan berbagai bentuk dan warna panil kaca patri yang ada di lokasi wahana hiburan tersebut.

Anda mungkin tak mengira bahwa kaca patri di Disneyland itu merupakan karya putra Indonesia kelahiran Semarang yang pada pertengahan Agustus nanti genap berusia 60 tahun. Dia adalah Brian Yaputra, bapak tiga anak dan kakek lima cucu yang berkibar lewat bendera Eztu Glass Art (EGA) 1981.

Nama Eztu diambil dari istilah bahasa Jawa, sa’estu (sungguh-sungguh) dan sae estu (benar-benar bagus). Setelah dirangkai dan huruf S—biar keren—diganti Z jadilah Eztu Glass atau benar-benar kaca.

“Pada awalnya banyak orang mengira produksi saya berasal dari bahan plastik,” tutur Brian di pabriknya seluas 8.000 meter persegi di Cikupa, Tangerang, Banten, pekan lalu. Di sini bekerja lebih dari 300 karyawan yang sekaligus menjadi lokasi gudang bahan baku impor yang bernilai ratusan juta rupiah.

Menurut Brian, seni kaca patri diciptakan pada abad ke-11 di Eropa yang awalnya untuk rumah ibadah. Daya pikat dari sinar yang menembus terbukti telah membuat suasana damai, khusyuk, dan tenang. Seiring perkembangan desain interior, para arsitek dan desainer kemudian menerapkannya ke bangunan umum dan perumahan.

Di Indonesia, kaca patri semula diperkenalkan para seniman Belanda pada dekade 1900-an. Akibat ketiadaan bahan baku, seni kaca patri pun menghilang selama 50 tahun, sebelum akhirnya marak kembali hingga sekarang.

Rekor Muri

Disneyland Hongkong yang dikerjakan tahun 2004 hanyalah salah satu contoh sentuhan Brian, anak keempat pasangan Yap Tek Liong-Sowana. Masih ada sederet bangunan lain di luar negeri yang juga kena sentuhannya.

Tentang hasil karya di Hongkong, Brian menyebut, “… job yang sangat bergengsi telah kami selesaikan. Pekerjaan ini merupakan bukti reputasi kami setelah prestasi mengerjakan panil kaca untuk 10 gereja dan beberapa restoran yang juga diselesaikan secara baik.” EGA satu-satunya perusahaan di luar Amerika Serikat yang ikut “mewarnai” Disneyland Hongkong.

Tak hanya di luar negeri. Karya lain di dalam negeri pun pantas disebut, di antaranya kaca patri seluas 12 meter x 30 meter di Johar Shopping Center, Semarang, yang masuk rekor Museum Rekor Indonesia (Muri).

Kemudian tercatat pula Museum Bank Indonesia karya seniman Belanda, Jan Sihoten Frinsenhof, sebagai salah satu bangunan kuno di bilangan Jakarta Kota, yang kemudian kena sentuhan Brian. Museum BI merupakan bangunan tahun 1924, lebih muda enam tahun dibandingkan dengan Museum Dr Sun Yat Sen di Hongkong yang juga diserahkan restorasinya kepada EGA. “Keduanya sangat monumental,” ujarnya menambahkan.

Ke Eropa

Brian mulai terpesona pada kaca patri saat ia berkesempatan jalan-jalan ke Eropa akhir tahun 1970-an, di sela-sela kesibukan mengelola pabrik peralatan elektronik milik keluarga.

Berbagai bangunan seperti gereja dan masjid di Eropa dihiasi kaca patri dan tampak sangat menawan. “Saya tertarik, tetapi enggak mengerti cara bikinnya,” tutur Brian. Sepulang ke Tanah Air, ia mengimpor kaca patri untuk dipelajari.

Setelah berkali-kali mencoba dan sering pula mengalami kegagalan—termasuk luka di tangan akibat tersayat pisau—pada awal 1981 Brian mulai berhasil menyusun kaca patri.

Seiring gencarnya pembangunan kawasan real estate, order pun terus berdatangan. Karena itu, produksi yang semula hanya dikerjakan di garasi dengan tiga karyawan pada 1986 dipindahkan ke Cikupa. Untuk mendukung pemasaran, Brian membuka ruang pamer di Jalan S Parman dan di Jalan Biak, Jakarta.

Setiap bulan EGA mendapatkan sekurangnya 10 order, di samping jasa desain dan pemasangan. Satu order biasa selesai dalam waktu tiga-empat bulan. Maklum, dalam sehari tiap karyawan di bagian produksi rata-rata hanya bisa menyelesaikan 0,25 meter persegi kaca patri. Sebegitu jauh ia tak bersedia menyebutkan harga jual.

Dalam perkembangan kemudian, EGA juga memperkenalkan sistem triplon glass atau unit triple glazed yang merupakan pelapisan panil kaca patri atau panel bevel dengan kaca tempered. Selain bermanfaat menghemat energi, triplon glass juga bisa berfungsi sebagai peredam suara.

Perawatannya pun amat mudah seperti merawat kaca polos biasa. EGA memopulerkan pula seni pelumeran kaca dari Italia yang lebih dikenal dengan melton glass (pelumeran kaca float) dan moons glass (pelumeran art glass warna-warni).

Prestasi prestisius kaca patri produksi EGA: menghiasi 29 gedung, 38 tempat ibadah, 11 hotel/spa, 10 restoran, dan sebagainya yang tersebar di berbagai negara dari Asia hingga Eropa.

Brian yang sudah menyerahkan tongkat estafet kepada kedua anaknya berpesan, “… dalam berusaha jangan mengurangi mutu bahan baku, berikan nilai lebih kepada pembeli atas uang yang dibayarkan, kerjakan dengan sepenuh hati, jangan menyusahkan pemberi order, jangan menipu, dan memberikan keterangan yang menyesatkan”. []

Estetika Kaca Patri, Cantik dan Mewah

SENI kaca patri (stained glass) merupakan hasil perpaduan seni lukis dan patri yang digunakan pada kaca. Seni ini dilakukan dengan cara mematri atau menyambung bagian atau potongan menggunakan patri atau timah sebagai pengikatnya. Kaca patri biasanya berbentuk geometris segi empat atau lingkaran, lalu dibentuk sedemikian rupa sehingga tampilannya menjadi cantik mengikuti pola tertentu. Pancaran warna yang dihasilkan kaca makin cantik jika terkena cahaya matahari. Kaca patri juga dapat membantu memantulkan cahaya matahari dan mengurangi panasnya suhu ruangan.

Sama halnya dengan mosaik pada pemakaian lantai, kaca patri juga menerapkan cara pemasangan puzzle. Sebelum menjadi suatu hasil karya seni, kaca dengan bentuk geometri dipotong kecil-kecil mengikuti pola lukisan seperti yang diinginkan konsumen. Selanjutnya, kaca dipatri dirakit satu per satu dengan menggunakan timah atau kuningan. Kemudian, memasuki tahap finishing.

Keunggulan yang ditawarkan kaca patri, antara lain bentuknya yang dapat menambah estetika rumah, terutama dengan teknik melapis tiga kaca patri (triple glass). Penggunaan kaca patri juga dapat membuat efek pencahayaan ruangan lebih indah serta dapat meredam suara. Dengan demikian, tidak memerlukan lagi gorden karena kaca sudah mempercantik ruangan. Selain sebagai unsur estetika yang mempengaruhi penampilan rumah, kaca patri dapat membantu keamanan rumah. Sebab, menggunakan kaca lapis tiga, kaca patri juga mampu menjadi terali yang berfungsi membantu keamanan rumah.

Pemanfaatan kaca patri sebagai elemen estetis ruangan, mulai dipopulerkan sebagai ornamen arsitektur pada pertengahan abad ke-12 di zaman gothic. Seni kaca patri tetap tak bisa dipisahkan dari arsitektur bangunan modern dewasa ini. Sebab, sesuatu yang indah memang akan selalu abadi. Namun, penempatan kaca patri harus cermat. Tidak bisa di sembarang tempat. Perlu menyesuaikan dengan gaya desain rumah dan lanskap sekelilingnya.

Dalam seni kaca patri, ada yang memperkenalkan sistem triplon glass atau unit triple glazed yang merupakan pelapisan panel kaca patri atau panel bevel dengan kaca tempered. Triplon glass ini selain bermanfaat menghemat energi juga berfungsi sebagai peredam suara bising. Perawatannya pun amat mudah, seperti merawat kaca polos biasa. Selain itu, teknologi kaca patri terus berkembang, maka berkembang juga seni pelumeran kaca dari Italia yang lebih dikenal dengan melton glass (pelumeran kaca float) dan moons glass (pelumeran art glass warna-warni).

Motif kaca patri pun beraneka ragam. Motif klasik, seperti Victorian hingga motif modern sesuai perkembangan zaman, misalnya motif tumbuhan, tanaman, hewan, pemandangan, dan kaligrafi. Bahkan, lewat seni kaca patri ini pun dapat ditampilkan gambar pemilik rumah. Bila pemilik rumah ingin memajang gambar diri di atas kaca patri, itu pun bisa dibuat. (ian, net)

Meraih Sukses dari Usaha Seni Kaca Timah

JAKARTA – Suatu hari di siang bolong salah seorang direktur PT Freeport Indonesia berkunjung ke sebuah rumah yang berada di gang kecil di bilangan Tanjung Duren, Jakarta Barat. Sang pejabat dari perusahaan penambangan emas milik perusahaan asing ini seakan tak percaya melihat rumah kecil tak berhalaman itu bisa menghasilkan karya kaca timah (stained glass).
Satu-satunya yang meyakinkan dirinya bahwa rumah yang dia cari benar adalah sebuah rumah yang jendelanya terbuat dari kaca timah. Direktur itu bingung dan heran melihat rumah kecil ini.
Ketika ketemua pemilik rumah dia langsung berkomentar ”Kok rumahnya kecil sekali,” tutur Setia Boedhi Utama, si pemilik rumah, sambil tertawa menirukan kata-kata Direktur tersebut.
Ternyata Sang Direktur itu bermaksud mengantarkan sebuah buku mengenai kaca timah terbitan luar negeri sebagai hadiah kepada Setia Boedhi Utama atas karya kaca timahnya yang kini menyatu dengan salah satu gedung PT Freeport.
Direktur itu, menurut pengakuan pria berusia 52 tahun ini tertarik dengan karya yang dibuatnya di samping jumlah orang yang terjun di bidang ini tergolong sulit dicari.
Rumah itu sesungguhnya adalah studio yang digunakan untuk mengerjakan pesanan kaca timah maupun produk lain seperti cermin hias, lampu hias, kaca lukis, kaca tiga dimensi. Itu adalah rumah pertama miliknya sebelum memiliki rumah lain yang sedikit lebih luas.
Selain itu, Boedhi juga menggelar karyanya di Pasar Seni Ancol. Dipilihnya tempat itu karena menganggap Ancol merupakan tempat yang paling pas untuk sebuah karya seni di samping harga sewa yang tidak terlalu mahal.
Akan tetapi, Boedhi, tidak menganggap pekerjaanya sebagai lahan bisnis. ”Ini adalah kerja seni. Seorang yang menekuni seni kaca timah harus memiliki jiwa yang bisa menyatu dengan pekerjaan dan tidak memandang sebagai peluang bisnis,” tegas Boedhi.
Dia menekankan pada saat orang menganggap seni kaca timah sebagai ladang bisnis maka karya ini akan rusak kualitasnya, akan merosot. Itu pulah yang kini banyak terjadi. Banyak yang meniru dan lantas menghasilkan karya tak berkualitas.
Kerja seni yang ditekuni sejak 1983 ini bahan baku utamanya adalah kaca dan timah. Karya ini memang lebih kental dengan nilai seni karena karyanya merupakan potongan kaca putih atau berwarna yang kemudian membentuk satu motif atau gambar yang telah dibuat sebelumnya.
Produknya telah menghasilkan buah yang bisa dinikmatinya. Kini karyanya sudah banyak di antaranya kaca dan pintu rumah, gedung-gedung perkantoran, mesjid atau pun gereja yang tersebar di berbagai tempat. Karya spektakulernya-begitu dia menyebut karya terbesarnya —berada di mesjid PT Astra International, Sunter, Jakarta Utara.
Bahkan saat ini dia sedang mendapat penawaran untuk membuat kaca timah untuk jendela mesjid dan gereja di proyek LNG Tangguh, Papua. ”Mereka sudah menawarkan kepada saya tapi belum ada tindak lanjutnya,” katanya sambil menunjukkan design rumah ibadah yang akan didirikan oleh perusahaan LNG tersebut.
Sempat mencicipi kuliah di fakultas arsitektur sebuah universitas di Solo, pria bertubuh kurus ini sebelumnya masih bekerja sebagai arsitek pada perusahaan swasta. Dia mengaku mempelajari seni kaca timah secara otodidak. Semua buku-buku yang hampir seluruhnya adalah terbitan luar negeri dipelajari sambil bekerja. Tak tanggung-tanggung, Boedhi termasuk orang yang rajin berburu buku, termasuk memburu buku sampai ke Singapura. Agaknya latar belakangnya sebagai arsitek memudahkannya memahami materi yang sarat dengan gambar-gambar yang rumit bagi orang awam.
“Saya beli buku sampai ke Singapura karena di sini cukup sulit mencarinya. Supaya karya kita selalu berkembang harus pintar-pintar cari informasi. Sekarang juga saya selalu dikirimi buletin dari salah satu kelompok seni kaca timah dari Amerika Serikat,” katanya.

Satu Karyawan
Terjun sepenuhnya membuat kaca timah, dimulai dengan satu karyawan. Soal order, dia mendapatkan dari teman-temannya. Lama kelamaan nama Boedhi mulai dikenal, terlebih orang yang menekuni perkejaan bidang ini termasuk langka. Tercatat pelanggannya terutama dari orang-orang asing yang berada di Indonesia. Setelah merasa cukup mapan delapan tahun lalu (1994) dia membuka galeri di Pasar Seni Ancol. Kini, dia telah mempekerjakan 14 karyawan.
Mencari karyawan, diakuinya cukup sulit. Dia harus mencari orang yang bisa menyenangi pekerjaan ini. ”Modalnya dia bisa mencintai pekerjaan karena mengerjakan seni kaca timah butuh kesabaran dan kecermatan,” ujarnya.
Seni kaca timah, bila dilihat hanya sekadar memotong kaca berdasarkan gambar yang dibuat. Tapi, ini bukan pekerjaan mudah. Setelah gambar dibuat, biasanya berdasarkan pesanan, barulah kaca dipotong-potong sesuai motif. Di sini ada teknik memotong sehingga kaca tidak pecah. Setelah itu kaca dibentuk, kemudian di-bevelled bertujuan untuk membentuk kaca-kaca yang dipotong kemudian menghaluskan hingga mengilatkan. Barulah potongan-potongan kaca disusun sesuai motif dan dipatri dengan timah.
Laki-laki asli Solo ini mengungkapkan, persoalan bahan baku kaca adalah masalah utama yang dihadapi. Sebagian besar bahan bakunya masih impor karena itu harganya sangat mahal. Sebuah kaca berwarna ukuran satu meter persegi bisa mencapai Rp 750.000 itu pun masih tergantung warna. Jika warnanya kuning, harganya lebih mahal.
Sedangkan harga untuk karya yang dihasilkan, Boedhi tidak mematok harga tinggi minimal Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta sesuai ukuran apakah untuk jendela, pintu serta jenis kaca yang digunakan.
Boedhi juga mengembangkan karyanya hingga ke lampu hias,cermin atau kaca tiga dimensi. Dari pengembangan produk itulah, Boedhi memperoleh pendapatan yang paling besar rata-rata omset mencapai Rp 10 juta/bulan. Produk-roduk yang dikembangkan itulah ke depan hendak diandalkan sebagai sumber omset. Pasalnya dari kaca timah, nilai yang diperoleh tidak bisa ditentukan karena tergantung pesanan.
Khususnya lampu hias, mulai dikerjakan ketika peristiwa Mei 1997 terjadi. Ketika itu, tidak ada pesanan kaca timah. Bahkan galeri di Pasar Seni Ancol nyaris tidak ada pengunjungnya. ”Saat itu bagaimana orang mau membuat jendela atau pintu dari kaca sedangkan situasi sedang mencekam. Kemudian timbul ide membuat lampu hias,” ujarnya.
Akan tetapi, keadaan ini tidak berlangsung lama. Mulai 1999 order mulai berdatangan. Bahkan kini, Boedhi juga membuka kursus bagi orang yang berminat mempelajari seni kaca timah di studionya di Tanjung Duren.
”Yang berminat mengikuti kursus ini justru kebanyakan orang asing. Beberapa mahasiswa ITB maupun mahasiswa senirupa lain belajar di sini,” kata Boedhi. Biaya kursus ditetapkan Rp 2,5 juta hingga trampil tanpa batas waktu yang ditentukan.
Boedhi bercita-cita mengembangkan seni kaca timah di Indonesia. Belum ada universitas di dalam negeri yang melahirkan mata kuliah seni kaca timah seperti halnya di luar negeri.
”Suatu hari nanti ingin berdemo di sekolah, universitas, memperkenalkan seni kaca timah supaya semakin banyak yang mengetahui dan bisa semakin berkembang. Dari kaca timah ada banyak yang bisa dihasilkan semua tergantung ide dari pembuatnya,” katanya optimis. (SH/naomi siagian)

Kemilau Indah Cahaya Kaca Patri

“RUMAHKU istanaku”. Demikian ujar-ujar bijak yang menggambarkan nyaman dan serasinya tempat tinggal bagi pemiliknya. Sesungguhnya, pemeo ini memiliki makna yang luas. Bukan hanya bentuk fisik melainkan juga suasana hati dan hubungan antar-penghuninya. Namun setidaknya, penampilan fisik rumah dapat mempengaruhi perasaan penghuninya.

Sebagian pemilik rumah melakukan banyak upaya untuk mewujudkan suasana “istanaku”. Bukan hanya arsitektur melainkan juga keserasian dan keindahan interior turut mengambil peran penting. Rumah juga dapat menjadi ajang ekpresi seni pemiliknya. Mulai dari arsitektur, eksterior, hingga interiornya.
Bagian interior yang dimiliki hampir setiap rumah adalah kaca, baik jendela maupun pintu. Fungsi awalnya, sebagai penahan teriknya sinar matahari. Kaca sebagai interior mengambil peranan penting. Karena itu, pemilik rumah sering memberi perhatian lebih pada benda satu ini. Kaca yang biasanya terintegrasi dengan kusennya menawarkan beragam mode dan corak yang memberi keleluasaan pemilik rumah.
Namun bagi sebagian orang, terutama mereka yang berjiwa seni dan memiliki uang lebih, kaca tidak hanya “pembatas” di kusen tetapi telah memiliki peran penting untuk mempercantik rumah.
Kaca Patri --stained glass dalam bahasa Inggris atau glass and lood dalam bahasa Belanda-- merupakan hasil perpaduan seni lukis dan seni patri yang digunakan pada kaca. Kaca yang umumnya berbentuk geometris tertentu, di antaranya segi empat atau lingkaran, dibentuk sedemikian rupa sehingga tampilannya menjadi cantik mengikuti pola tertentu. Pancaran warna yang dihasilkan kaca semakin cantik jika terkena cahaya matahari.
Tidak Sembarang Kaca
DALAM pembuatan kaca patri, Pengelola Srikaton Glassindo Decorative Glass Work, Boy Erwin, mengatakan bahwa tidak sembarang kaca dapat digunakan. Umumnya, bahan kaca patri harus menggunakan kaca impor yang berasal dari Amerika, Taiwan, Jepang, atau sejumlah negara lainnya. Hal ini disebabkan kualitas pencahayaan yang dihasilkan kaca buatan luar ini jauh lebih baik daripada kaca lokal. Ketebalan pun menjadi faktor utama, yakni minimal 7 milimeter.
Sebelum menjadi suatu hasil karya seni, kaca dengan bentuk geometri dipotong kecil-kecil mengikuti pola lukisan seperti yang diinginkan konsumen. Selanjutnya, kaca dipatri atau dirakit satu per satu dengan menggunakan timah atau kuningan. Kemudian, memasuki tahap finishing. “Karena rumitnya pengerjaan, satu jendela biasanya memerlukan waktu sedikitnya satu minggu,” ujarnya.
Pada umumnya, kata Boy, terdapat tiga model kaca patri. Yakni, kaca patri berwarna, kaca patri timah, dan kaca patri bevel.
Motif kaca patri pun beraneka ragam. Motif klasik seperti Victorian hingga motif modern sesuai perkembangan zaman, misalnya motif tumbuhan, tanaman, hewan, dan pemandangan. Bahkan, lewat seni kaca patri ini pun, dapat ditampilkan motif kaligrafi.
Berbagai keunggulan ditawarkan kaca patri. Bentuknya yang memang dapat mempercantik rumah, terutama dengan teknik melapis tiga kaca patri atau istilahnya triple glass. Penggunana kaca patri juga dapat membuat efek pencahayaan ruangan lebih indah, dapat meredam suara, dan tidak memerlukan lagi gorden karena kaca sudah mempercantik ruangan.
“Dan, dari segi keamanan, kaca patri lapis tiga langsung berfungsi menjadi teralis,” ujar manajer Mataram 316 Stained Glass, Hari Wahyudi Winawardhana, SE.
(vanda rosetiati)

Masjid Agung Juga Pakai
SENI patri merupakan seni mematri atau menyambung bagian atau potongan benda dengan menggunakan patri atau timah. Pada awalnya, seni patri ini digunakan di Eropa. Sedangkan di Indonesia, bangunan yang dihias kaca patri adalah gereja peninggalan kolonial.
Namun seiring perkembangan zaman, kaca patri pun mengalami perubahan mode dan fungsi. Selain desain, kehalusan pengerjaan juga mengalami kemajuan.
Khusus untuk Kota Palembang, kaca patri sudah dikenal sejak sekitar tahun 1748, yang dibuktikan dengan adanya beberapa bentuk kaca patri di sejumlah bagian gedung peninggalan kolonial. Di antaranya, Menara Air, yang sekarang menjadi Kantor Walikota Palembang.
“Bahkan, Masjid Agung Palembang pada desain aslinya menggunakan kaca patri di beberapa bagian,” kata Budayawan Palembang, Johan Hanafiah.
Menurut Johan, yang menghias rumahnya dengan kaca patri, motif kaca ini mengandung tingkat seni grafis dan seni lukis yang tinggi. (van)

Sejarah Seni Kaca

Cahaya yang menari : Sejarah Seni Kaca Patri Masa Kolonial di Indonesia

Tidak banyak orang yang memperhatikan salah satu ornamen penting ini dalam suatu bangunan. Padahal ornamen itu sangat cocok dengan iklim tropis Indonesia yang kaya akan matahari. Ornamen hiasan tersebut akan semakin indah bila cahaya sinar matahari menembusnya. Seolah cahaya itu menari. Ornamen indah itu adalah kaca patri yang dalam bahasa Belanda disebut glass-in-lood. Sementara itu dalam bahasa Inggris disebut leaded glass atau stained glass art.

Ditinjau dari sejarahnya, seni kaca patri merupakan ornamen arsitektur yang berasal dari Eropa. Penggunaan kaca warna pada jendela terutama untuk rumah ibadah (gereja) dimulai pada pertengahan abad ke-12. Pada zaman Gotik inilah, seni ini berada pada puncak kejayaannya. Jauh sebelumnya, teknik pewarnaan pada kaca sudah dikenal di Mesir dan Mesopotamia pada milenium ketiga sebelum masehi. Yang kemudian berkembang pada masa Romawi.

Di Indonesia sebenarnya kita mengenal pula ornamen kaca patri ini. Namun, tidak jelas siapa yang membawa seni kaca patri ini ke Indonesia. Menariknya, sampai paruh pertama abad ke-19 kaca termasuk jenis barang mewah dan sangat mahal. Baik di Indonesia maupun di Asia, termasuk China dan Jepang. Dari arsip laporan tahunan VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) di Batavia untuk kantor pusat di Amsterdam, terdapat beberapa catatan tentang impor barang-barang kaca dari Belanda atau Eropa. Barang-barang kaca itu untuk dijual atau diberikan sebagai hadiah kepada raja-raja atau sultan-sultan di Indonesia. Namun, VOC lebih banyak menjual atau memasok kaca ke India, China dan Jepang. Pada 1675 VOC sempat memikirkan untuk mendirikan pabrik kaca di Batavia tetapi rencana itu tidak terwujud. Di Indonesia pun, bahan kaca tetap langka sampai awal abad ke-20, kecuali untuk kalangan terbatas. Baru sesudah 1910-an kaca semakin terjangkau dengan impor kaca dari Jepang.

Dapat dikatakan pada 1900-an merupakan awal penggunaan kaca patri selain di tempat-tempat ibadah. Pada masa ini kaca patri mulai digunakan untuk bangunan kantor, hotel dan rumah tinggal, terutama bangunan yang bergaya arsitektur art deco. Berbeda dengan kaca patri di rumah-rumah ibadah, penggunaan kaca patri untuk rumah tinggal pada umumnya hanya menempati bidang kecil pada bagian bangunan yang disebut bovenlicht, yaitu jendela kecil yang bisa dibuka tutup. Panel kaca patrinya kecil-kecil dan terpasang pada kusen. Supaya kaca patri tampak alami maka kusennya juga dipelitur.
Di Indonesia kita bisa menemukan jejak seni kaca patri ini, terutama di Jawa. Misalnya di gereja Katedral Jakarta yang diresmikan pada 1901. Menurut Han Awal, arsitek senior Indonesia, gereja ini dirancang pada 1891 oleh A. Dijkmans seorang pastor yang juga arsitek. Lantaran sakit dan harus kembali ke Belanda, maka pembangunannya dilanjutkan oleh M..J. Hulswit dari biro arsitek terkenal di Belanda, Fermon & Cuypers. Oleh karena itu di prasasasti depan gereja yang disebut hanya Cuypers-Hulswit sebagai arsiteknya. Gaya arsitektur gereja ini adalah neo gotik karena merupakan “tiruan gaya Gotik”. Pada bagian Barat gereja ini kita akan menjumpai jendela rosetta besar yang dihiasi kaca patri indah.

Ornamen kaca patri juga dapat ditemui di gedung Museum Bank Indonesia yang dulu merupakan kantor Javasche Bank, cikal bakal Bank Indonesia. Gedung yang bergaya neo klasik ini sebelumnya adalah bekas rumah sakit Binnen yang dibangun pada 1828. Lagi-lagi perancang bangunan ini adalah oleh biro arsitek Fermont & Cuypers. Khusus di ruangan direktur yang dikenal dengan nama Ruang Hijau, di sana terpasang panel-panel jendela kaca patri berwarna-warni indah dengan gambar aneka produk alam. Produk alam itu merupakan komoditi yang diperdagangkan Belanda pada masa itu, seperti kopi, lada, timah, emas, kapas, karet, tebu. Beberapa panel jendela hilang sehingga perlu waktu untuk mengetahui komoditi yang terdapat dalam panel tersebut.

Seluruh jendela kaca patri di museum Bank Indonesia itu dibuat oleh seniman Belanda bernama Ian Sihouten Frinsenhouf dari Delft. Saat ini panel-panel kaca patri di gedung museum Bank Indonesia sedang direstorasi oleh Eztu Glass Art, pimpinan Brian Yaputra & Freddy Sudjadi, dua maestro kaca patri Indonesia yang membawa seni kaca patri sejak 1981 kembali Indonesia.

Di Yogyakarta kita akan menjumpai hiasan kaca patri ini di Kraton Yogya. Terletak di bangsal Trajumas, bangsal ini memiliki fungsi penting untuk upacara dan sebagai ruang pengadilan. Hiasan kaca patri yang ada di sana bergaya Victorian dipadu dengan gambar alat musik seperti terompet, biola dan sejenis harpa.

Hiasan kaca patri juga dapat ditemui di Hotel Oranje di Surabaya, kelak berganti nama menjadi hotel MADJAPAHIT dan sekarang bernama Mandarin Oriental . Hotel ini diresmikan pada 1900 dan kaca patrinya juga direstorasi pada 1993. Begitupula dengan Hotel Sentral di Wonosobo. Kedua hotel tersebut pun telah direstorasi oleh EZTU GLASS ART. Pada sebuah rumah peninggalan masa kolonial di Malang, kita juga dapat menjumpai kaca patri dengan desain yang terinspirasi dari Frank Lloyd Wright. Demikian pula dengan bangunan-bangunan rumah di Surabaya yang menggunakan ornamen kaca patri bergaya Mondriaan. Dengan ciri khas garis segi empat tetapi warnanya berbeda.

Bangunan mesjid pun tak luput dari sentuhan ornamen kaca patri. Misalnya Masjid Menara Kudus yang sebenarnya bernama Masjid Al-Aqsha. Berdasarkan inskripsi dalam bahasa Arab, masjid ini didirikan pada 1549 oleh Ja’far Shadiq atau Sunan Kudus. Pada 1925 bagian depan masjid ditambah bangunan baru berupa serambi. Pada 1933, bagian serambi itu disambung lagi dengan bangunan baru yang juga berupa serambi. Serambi ini memiliki mimbar kubah bercorak arsitektur bangunan India. Disekelilingnya dihiasi kaca patri yang indah dan unik. Panel-panel kaca patri yang menghiasinya merupakan kombinasi motif gaya art deco dengan kaligrafi huruf-huruf Arab. Di sana tertulis nama-nama sahabat Nabi Muhammad SAW, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, serta empat orang imam mazhab (Hanafi, Hambali, Syafi’i dan Maliki), dll.

Gereja St Paulus di Bandung yang dibangun tahun 1919 hasil rancangan arsitek Belanda C.P. Schoemaker juga memanfaatkan keindahan kaca patri. Lukisan Yesus dan Bunda Maria dalam paduan warna-warna indah memberi kesan lebih religius yang khusyuk dalam gereja. Selain itu penggunaan kaca patri secara besar-besaran digunakan di aula barat dan timur Technische Hoogeschool Bandoeng (sekarang Institut Teknologi Bandung). Itu merupakan hasil rancangan Ir Mclaine Pont. Ia sengaja menggunakan warna kaca yang putih bersih. Dengan alasan supaya sinar matahari dari luar bisa masuk. Sehingga ruangan menjadi lebih terang tanpa terasa panas dan silau. Demikian pula dengan bangunan hotel Savoy Homann yang pada waktu renovasi 1939 dirancang oleh A.F. Aalbers juga menggunakan ornamen kaca patri.

Bila kita cermati gaya kaca patri (khususnya rumah) yang dominan adalah gaya modernisme dari Piet Mondriaan , salah satu pelopor De Stijl, majalah seni di Belanda yang terbit 1917. Tokoh De Stijl lainnya adalah Theo van Doesburg (1883-1931) yang sempat mengunjungi arsitek Amerika Frank Lloyd Wright. Frank Lloyd Wright (1867-1959) adalah salah satu pelopor aliran modernisme dalam arsitektur di Amerika. Aliran ini mengembangkan gagasan fungsional, bentuk mengikuti fungsi (form follow function). Bagian bangunan tanpa fungsi serta unsur dekorasi tanpa fungis tabu dibuat. Sehingga keindahan timbul karena pancaran komposisi elemen-elemen berfungsi.
Kemungkinan besar aliran ini sangat berpengaruh pada arsitek-arsitek di Belanda. Yang kemudian membawanya masuk ke Indonesia. Mereka menyesuaikan dengan budaya dan iklim setempat. Seperti pada karya-karya Cuypers, Karsten, Henri Maclaine Pont (1884-1971), C.P. Wolff Schoemaker (dosen dan pembimbing Soekarno waktu mahasiswa). Para arsitek inilah yang “membangun” kota , merancang dan merenovasi berbagai bangunan di kota-kota besar Jawa seperti Bandung, Batavia, Surabaya, Semarang. Bisa jadi pula seni kaca patri digunakan mereka sebagai bagian ornamen rancangan arsitektur yang disesuaikan dengan fungsi. Memanfaatkan sinar matahari tropis sehingga cahayanya yang masuk menembus panel-panel kaca patri seolah menari dengan indah.

Memang kaca patri sejak diciptakan telah mempesona dan terbukti memberi keindahan. Demikian pula kaca patri di setiap rumah ibadah menimbulkan perasaan yang khusyuk, damai kepada umatnya. Kedamaian dan keindahan ini juga diterapkan oleh para desainer di setiap lokasi yang mereka perlukan. Maka seni kaca patri hingga saat ini tidak pernah.pudar, malahan selalu dapat disesuaikan dengan gaya desain arsitektur yang sedang trendy.INA Magazine

Ketika Kaca Jadi Dekorasi Ruangan

Tidak selamanya kerajinan kayu, bambu atau keramik menjadi monopoli demi perolehan keindahan dan kecancikan suatu ruangan. Kerajinan kaca pun ternyata bisa menambah keapikan bahkan kemewahan dekorasi sebuah ruang. Dengan berbagai cara, kaca bening dan warna, ketika telah diolah serta dipadukan menjadi sebuah seni kerajinan, dipastikan akan mampu melahirkan daya pikat tersendiri.


AS Sutiman perajin kaca patri dari Solo misalnya, lewat kepintaran dan kekayaan imajinasinya, mampu menjawab tantangan untuk mengisi dekorasi ruangan melalui kerajinan kacanya. Ada banyak produk ciptaannya, semisal lampu gantung, kap lampu duduk, kaca hias, tempat tisu, kotak perhiasan, kotak permen, vas bunga, tatakan gelas, atau baki.

“Saya memulai usaha ini sejak tahun 1998. Itupun awalnya bukan kaca, tetapi dengan bahan baku tempurung dan kerang,” kata AS Sutiman yang ditemui Handicarft Indonesia. Melalui bendera usaha “Aneka Karya Glass” Sutiman memang tergolong kampiun dalam soal desain dari kerajinan kaca . Sampai saat ini, sedikitnya sudah 250 desain diciptakannya, terbagi dalam empat kelompok yakni kerajinan kaca miror, kaca patri, kotak souvenir yang dibingkai dengan kuningan dan lampu gantung.

“Konsumen kami tak terbatas dari sekitar sini. Tetapi datang berasal dari Jakarta, Bali, Bandung, Yogya. Kami juga telah ekspor ke Australia dan Jepang,” kata Sutiman yang memiliki bengkel kerja di daerah Pabelan, Solo. Konsumen umumnya memesan supenir berupa tempat tisu, pigura, vas bunga dan lampu gantung!” lanjutnya. Selama ini Sutiman menggunakan kaca berketebalan antara 3-5 mm, baik lokal maupun impor.

Supenir seperti kotak tisu misalnya, banyak dihiasi dengan lukisan batik atau bunga tulip. Untuk memberi kesan etnik, dipilihlah cat berwana coklat dan merah.. Sementara untuk membuat lampu gantung di samping lis kuningan, digunakan tembaga sebagai penyangga bagian bawah dan penutup bagian atas. Menurut Sutiman, rendah tingginya harga tergantung pada mutu kaca yang digunakannya.

Kaca bening sekarang ini harganya antara Rp 40.000,- hingga – Rp 135.000,-/m2. Sedang kaca warna harganya Rp 65.000,- hingga sekitar Rp 800.000,-/m2. “Saya menjual kerajinan ini antara Rp 15.000,- hingga Rp 6 juta-an. Seperti kaca miror ukuran 80 X 180 cm ini, harganya Rp 5 juta, sebentar lagi akan saya kirim,” ujarnya sambil menunjukkan peti kemasan siap kirim.

Selama jadi perajin, Sutiman merasa bangga karena bisa membuat karya besar berupa lampu gantung berbentuk bola dengan diameter 85 cm dan tinggi 160 cm. Lampu bola dimaksud, menggunakan lima jenis kaca warna, pesanan konsumen dari Jakarta, seharga Rp 3 juta. Sisi utama dari dari kerajinan kaca, katanya, adalah ketelitian dan kecermatan dalam memasang berbagai bahan. Dulu ketika baru memulai usaha, ia mengaku selalu gagal dalam membuat lis kuningan dan memotong kaca, karena tiba-tiba pecah. Tapi sekarang tidak akan pernah terjadi.

Dengan selalu ikut pameran tingkat nasional seperti PPE, Furnicraft dan Inacraft, Sutiman bisa semakin mengetahui selera dan minat pasar. Tak jarang, karya-karya barunya langsung dipilih konsumen. “Seperti lampu gantung dengan kaca bening yang banyak diberi lis kuningan, ternyata banyak disukai pembeli,” aku Sutiman yang pernah malang melintang di Palembang, menekuni kerajinan kerang.

Kini, di bengkel kerjanya Jl. Pabelan II /36, Sutiman dibantu sedikitnya 40 tenaga kerja pria/wanita. Pada jam-jam produksi, hampir pasti bengkel kerja itu menjadi hiruk pikuk oleh suara palu beradu dengan bahan-bahan kuningan dan sejenisnya. Sementara bangunan di bagian depan digunakan untuk memajang berbagai produk yang pernah dihasilkannya. Jenis lampu gantung maupun jenis kaca hias mendominasi ruangan nan lapang itu.

Untuk kaca hias, Sutiman membari nama nama seperti Capricorn, Virgo, Leo, Gemini, Scorpio, Sagitarius, Arunus, Venus, Cancer, Mars dan Aquarius. Kaca hias ini memiliki bentuk berbeda terutama pigura yang membingkainya. Kalau Virgo bentuknya segi empat yang bagian atasnya diberi ukir-ukiran kaca. Sedang Venus bentuknya lonjong. ‘Harga kaca hias dengan bingkai kaca ini harganya di atas Rp 1 juta,” kata Sutiman mengakhiri perbincangan.■

Kaca dan Asal Mulanya

Kaca yang mudah ditemukan dalam kehidupan keseharian, ternyata merupakan material padat pada suhu kamar, sekaligus sebagai sebuah tabir yang dapat menghantarkan cahaya, tetapi sulit menghantarkan udara dan suara. Kaca merupakan benda transparan yang kuat dan secara biologi merupakan bahan yang tidak aktif, sehingga bisa dibentuk menjadi permukaan yang kuat dan licin. Kaca yang kemudian menjadi produk multi guna, terdiri dari unsur silika, yaitu butiran pasir yang mengandung silikon dioksida.

Untuk mencairkan kaca diperlukan suhu sekitar 1400 derajat Celcius. Ini disebabkan karena kaca terdiri dari bahan yang tidak memiliki perubahan garis atomik dalam cahaya. Selain itu, kaca juga mempunyai tingkat gelombang yang lebih besar dibandingkan cahaya dan tak ada sekat yang menyebabkan cahaya terbias sehingga menghalangi pemantulan obyek.

Kaca semula berasal dari material obsidia yang terbentuk dari lava gunung berapi, sebenarnya telah dikenal sejak zaman batu. Menurut salah satu referensi, pembuat kaca pertama adalah bangsa Mesir sekitar tahun 2000 Sebelum Masehi. Saat itu, kaca digunakan sebagai kemasan barang-barang tembikar dan sejumlah benda lainnya. Pada abad pertama Sebelum Masehi, teknik pembuatannya berkembang dan kaca menjadi lebih banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Di zaman Kekaisaran Romawi sebagian besar produk kaca berbentuk botol dan gelas. Kemudian pada abad ke-12 dibuatlah kaca berwarna dengan cara mencampurkan bahan pewarna berupa oksida logam. Kaca jenis ini kurang begitu berkembang karena tidak digunakan secara luas oleh masyarakat. Pada abad ke-14 pusat pembuatan kaca adalah kota Venice yang berada di Italia. Kota inilah yang banyak melahirkan teknik baru, dan akhirnya produk kaca menjadi komoditas penting, seperti piring, pinggan, mangkuk, cermin, dan barang mewah lainnya.

Kemudian sekitar tahun 1688, proses pengolahan kaca ini menggunakan beberapa cara yang telah dikembangkan, sehingga produk kaca lebih mudah dibuat. Dengan lahirnya mesin pengolah produk kaca pada 1827, produk-produk berbasis kaca bisa dibuat secara massal, harganya pun menjadi lebih murah. Pada pertengahan 1800-an diperkenalkan proses pembuatan kaca mahkota (crown glass process).

Untuk mengubah tekstur kaca biasa, bisa dilakukan dengan campuran bahan lain yang akan mengubah ciri-cirinya. Misalnya, kaca yang dicampur dengan timah hitam akan tampak lebih berkilau, karena indeks pantulannya mengalami peningkatan. Kemudian bila ditambahkan senyawa boron akan memperkuat ciri fisik dan elektriknya sehingga menghasilkan produk kaca yang tahan panas dan disebut dengan pyrec.

Dengan menambahkan senyawa barium juga akan meningkatkan indeks pantulannya. Sementara itu, untuk kaca yang menyerap tenaga infra digunakan campuran serium. Ada pula yang menambahkan campuran logam oksida yang berfungsi mengubah warna kaca. Penambahan kadar soda atau potasium juga menurunkan titik lebur kaca, atau itu digunakan senyawa mangan untuk menghilangkan warna yang tidak dikehendaki.

Berkembang
Kaca berwarna dihasilkan dengan cara mencampur sedikit oksida logam peralihan. Misalnya, oksida mangan akan menghasilkan warna ungu, oksida kuprum dan kromium akan memberikan warna hijau, dan oksida kobalt memberikan warna biru. Soda atau sodium karbonat (Na2CO3) dapat menurunkan titik lebur kaca sampai sekitar 1000 derajat Celcius. Bahkan bahan soda menjadikan kaca mudah larut sehingga untuk mengatasinya harus ditambah dengan kapur (kalsium oksida atau CaO).

Dengan berbagai ciri dan kekhasannya, material kaca dapat diolah menjadi bermacam-macam produk fungsional, seperti peralatan makan dan minum, perkakas rumah tangga, pelengkap interior ruangan hingga sebagai bahan bangunan. Sekarang ini, produk kaca bahkan telah berkembang menjadi barang seni yang berbentuk unik dan menarik.

Barang-barang seni yang dibuat dari kaca, kemudian digolongkan sebagai kreasi kerajinan tangan karena proses pembuatannya menggunakan keahlian manual dari seorang perajin. Produk kaca sebagai barang kerajinan pun semakin beragam bentuk desainnya. Bentuk dasarnya mungkin hanya piring oval, gelas atau vas bunga, namun desain dan aksen dekorasinya dibuat dengan berbagai sentuhan seni yang cantik. Dengan begitu, produk kerajinan kaca semakin diminati danmenjasi komoditas yang menjanjikan.

Kaca yang mudah ditemukan dalam kehidupan keseharian, ternyata merupakan material padat pada suhu kamar, sekaligus sebagai sebuah tabir yang dapat menghantarkan cahaya, tetapi sulit menghantarkan udara dan suara. Kaca merupakan benda transparan yang kuat dan secara biologi merupakan bahan yang tidak aktif, sehingga bisa dibentuk menjadi permukaan yang kuat dan licin. Kaca yang kemudian menjadi produk multi guna, terdiri dari unsur silika, yaitu butiran pasir yang mengandung silikon dioksida.

Untuk mencairkan kaca diperlukan suhu sekitar 1400 derajat Celcius. Ini disebabkan karena kaca terdiri dari bahan yang tidak memiliki perubahan garis atomik dalam cahaya. Selain itu, kaca juga mempunyai tingkat gelombang yang lebih besar dibandingkan cahaya dan tak ada sekat yang menyebabkan cahaya terbias sehingga menghalangi pemantulan obyek.

Kaca semula berasal dari material obsidia yang terbentuk dari lava gunung berapi, sebenarnya telah dikenal sejak zaman batu. Menurut salah satu referensi, pembuat kaca pertama adalah bangsa Mesir sekitar tahun 2000 Sebelum Masehi. Saat itu, kaca digunakan sebagai kemasan barang-barang tembikar dan sejumlah benda lainnya. Pada abad pertama Sebelum Masehi, teknik pembuatannya berkembang dan kaca menjadi lebih banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Di zaman Kekaisaran Romawi sebagian besar produk kaca berbentuk botol dan gelas. Kemudian pada abad ke-12 dibuatlah kaca berwarna dengan cara mencampurkan bahan pewarna berupa oksida logam. Kaca jenis ini kurang begitu berkembang karena tidak digunakan secara luas oleh masyarakat. Pada abad ke-14 pusat pembuatan kaca adalah kota Venice yang berada di Italia. Kota inilah yang banyak melahirkan teknik baru, dan akhirnya produk kaca menjadi komoditas penting, seperti piring, pinggan, mangkuk, cermin, dan barang mewah lainnya.

Kemudian sekitar tahun 1688, proses pengolahan kaca ini menggunakan beberapa cara yang telah dikembangkan, sehingga produk kaca lebih mudah dibuat. Dengan lahirnya mesin pengolah produk kaca pada 1827, produk-produk berbasis kaca bisa dibuat secara massal, harganya pun menjadi lebih murah. Pada pertengahan 1800-an diperkenalkan proses pembuatan kaca mahkota (crown glass process).

Untuk mengubah tekstur kaca biasa, bisa dilakukan dengan campuran bahan lain yang akan mengubah ciri-cirinya. Misalnya, kaca yang dicampur dengan timah hitam akan tampak lebih berkilau, karena indeks pantulannya mengalami peningkatan. Kemudian bila ditambahkan senyawa boron akan memperkuat ciri fisik dan elektriknya sehingga menghasilkan produk kaca yang tahan panas dan disebut dengan pyrec.

Dengan menambahkan senyawa barium juga akan meningkatkan indeks pantulannya. Sementara itu, untuk kaca yang menyerap tenaga infra digunakan campuran serium. Ada pula yang menambahkan campuran logam oksida yang berfungsi mengubah warna kaca. Penambahan kadar soda atau potasium juga menurunkan titik lebur kaca, atau itu digunakan senyawa mangan untuk menghilangkan warna yang tidak dikehendaki.

Berkembang
Kaca berwarna dihasilkan dengan cara mencampur sedikit oksida logam peralihan. Misalnya, oksida mangan akan menghasilkan warna ungu, oksida kuprum dan kromium akan memberikan warna hijau, dan oksida kobalt memberikan warna biru. Soda atau sodium karbonat (Na2CO3) dapat menurunkan titik lebur kaca sampai sekitar 1000 derajat Celcius. Bahkan bahan soda menjadikan kaca mudah larut sehingga untuk mengatasinya harus ditambah dengan kapur (kalsium oksida atau CaO).

Dengan berbagai ciri dan kekhasannya, material kaca dapat diolah menjadi bermacam-macam produk fungsional, seperti peralatan makan dan minum, perkakas rumah tangga, pelengkap interior ruangan hingga sebagai bahan bangunan. Sekarang ini, produk kaca bahkan telah berkembang menjadi barang seni yang berbentuk unik dan menarik.

Barang-barang seni yang dibuat dari kaca, kemudian digolongkan sebagai kreasi kerajinan tangan karena proses pembuatannya menggunakan keahlian manual dari seorang perajin. Produk kaca sebagai barang kerajinan pun semakin beragam bentuk desainnya. Bentuk dasarnya mungkin hanya piring oval, gelas atau vas bunga, namun desain dan aksen dekorasinya dibuat dengan berbagai sentuhan seni yang cantik. Dengan begitu, produk kerajinan kaca semakin diminati danmenjasi komoditas yang menjanjikan.