MENGKONDISIKAN KEBEBASAN KREASI BERKEMBAN
TEMA ibarat sebuah pintu masuk pada sebuah karya seni dan merupakan salah satu aspek paling luar yang lebih cepat dijamah publik. Ada yang menganggap, untuk membangun tema yang indah harus melalui bentuk yang indah pula. Jika tidak, sebuah kaya seni dianggap tidak padu atau cacat.
Maka teknik berkarya seni menjadi sebuah persoalan yang tidak boleh diabaikan. Pada tema pulalah ada pesan atau makna atau yang disebut isi dari sebuah karya seni. Oleh sebab itu, lukisan-lukisan Bali klasik serta karya di awal perkembangan seni lukis Bali gaya Ubud, membangun tema atau isi serta bentuk yang indah. Dengan kata lain, melukis berarti menerapkan disiplin yang ketat untuk mewujudkan bentuk dan isi yang indah. "Seni itu indah".
Sang Pelopor
Jika dari situ melihat lukisan-lukisan kaca dari Desa Nagasepaha, Buleleng, yang dikerjakan sejak 1927, ada banyak hal menarik yang dapat diceritakan. Mewujudkan suatu yang indah bukanlah hal mudah ketika harus berhadapan dengan bahan kaca sebagai kanvas, warna yang khusus, serta teknik yang menyesuaikan. Persoalan ini mengemuka pada pameran lukisan kaca Desa Nagasepaha pada Pesta Kesenian Bali (PKB) 2007 ini.
Sejak tokoh pertama yakni I Ketut Negara -- kemudian diberi sebutan Jero Dalang Diah -- yang dalang sekaligus ahli membuat wayang kulit mengerjakan seni lukis kaca, sampai kini generasi pelukis Desa Nagasepaha mengerjakan lukisan kaca. Ini sudah sekitar 70 tahun berjalan, dimulai sekitar tahun 1927. Konon, Jero Dalang Diah semula didatangi oleh I Wayan Nitia yang ingin dibuatkan lukisan wayang dengan menyodorkan contoh lukisan kaca dari Jepang. Itulah awal mula munculnya seni lukis kaca Nagasepaha. Demikian seorang dosen STKIP, IGN Wiednyana, menuturkan suatu hari ketika lukisan kaca Nagasepaha dipamerkan di Museum Puri Lukisan Ubud pada 23 April s.d. 23 Mei 2000.
Kini, karya-karya seni lukis kaca Desa Nagasepaha dipamerkan di Ruang Kriya di arena PKB 2007. Di situ ada banyak ragam gaya. Ada gaya seni lukis wayang didukung Jero Dalang Diah, sang pelopor atau bapak dari seni lukis kaca Desa Nagasepaha. Diikuti antara lain oleh I Nyoman Subrata (1942), I Nyoman Netep (1960), Kadek Subrata (1982), I Made Sukrawa (1972), I Ketut Sekar (1949), I Wayan Arnawa, I Ketut Suamba (1942), Gede Kenak Eriada dan salah satu pelukis perempuan Ni Made Nurining. Kemudian gaya lain, di luar gaya wayang didukung pelukis muda seperti I Ketut Sentosa.
Beberapa lukisan gaya wayang dibangun dengan latar belakang pepohonan dibuat naturalis. Gaya naturalistik itu konon dipengaruhi lukisan-lukisan pemandangan buatan Sukaraja (Jawa Tengah) dan lukisan gaya Jelekong (Jawa Barat) yang banyak beredar di Bali hingga ke pelosok desa. Penelitian para dosen STKIP (1992) menjelaskan bahwa gaya wayang sekaligus digabung dengan gaya naturalustik menjadi periode tersendiri dalam perkembangan seni lukis kaca ini.
Kemudian perubahan mengarah pada satu gaya wayang dengan latar dekoratif menandai perkembangan selanjutnya. Di luar itu, masih ada sejumlah nilai lain yang bisa diketengahkan misalnya pemakaian warna yang mirip gaya lukisan young artist dominan penggunaan warna dasar, garis kontur yang sangat kuat bahkan cenderung kaku dan tidak elastis karena pengaruh bahan kaca dan postur wayang pendek menandai lukisan wayang kaca Nagasepaha.
Pada karya I Ketut Suamba dengan judul "Bhagawadgita", persoalan teknik melukisnya dapat mengatasi bahan kaca untuk menghasilkan garis kontur yang tipis, elastis. Dia mampu menaklukkan sebuah tantangan yang tidak semua orang dapat melakukannya. Dengan demikian lukisannya menempati posisi tersendiri, khas seni lukis Bali Kuno dengan warna hitam-putih hanya tanpa aburan. Suatu yang menarik ingatan tentang penerapan disiplin yang ketat dalam tata krama seni lukis Bali sementara di lain pihak sejumlah lukisan dengan teknik melukis seadanya, penggunaan warna murni serta menunjukkan hanya satu postur wayang, justru nampak khas. Sebuah kesenian wayang yang berpijak dari kesederhanaan serta mengandung kesan religius.
Kebebasan Ekspresi
Ada hal lain lagi yang unik dalam komunitas para pelukis dari Desa Nagasepaha ini. Dalam sebuah lukisan ada tokoh wayang Delem membaur dalam lingkungan manusia terlibat nonton televisi. Sebuah narasi lintas teks di mana Delem yang hidup dalam dunia wayang bermigrasi ke dunia manusia. Lukisan itu berjudul "Terpelincir" (2007, 70x50 cm, cat minyak di kaca) karya I Ketut Sentosa. Unsur poster pada lukisannya nampak dari tulisan besar diletakkan di atas figur menegaskan tentang tema yang dimaksud mengarah ke tema sosial tergelincirnya pesawat Garuda tempo hari. Beberapa figur manusia dengan posisi samping, mirip posisi wayang kulit dan tokoh Delem (tokoh rakyat dalam dunia pewayangan) diketengahkan tengah menonton TV menyaksikan tayangan berita pesawat Garuda yang terpelincir.
Bagaimana kita membaca pesan dari lukisan ini? Sebuah tema yang lain yang menjelaskan sebuah totalitas pendobrakan atas pakem yang sudah ada. Mitos berkesenian dilabrak. Sebuah karya yang lain, juga dibuat oleh Sentosa, seperti mengajak kita pada kesadaran multikultur yang dibangun dengan hadirnya perempuan berjilbab di tengah kerumunan orang menawar kain dan lagi-lagi tokoh Delem nongol di situ.
Delem menjadi suatu yang fokus agaknya jika hadir di mana-mana. Tokoh pejabat bawah di struktur pemerintahan dunia pewayangan ini identik dengan si mulut besar yang menurut istilah lokal disebut "i bungut gebuh" yang NATO (no actions talk only). Sebuah gaya identifikasi yang khas dan menawan untuk masa sekarang. Sebuah interpretasi zaman di mana Pilkada membara dan orang jualan kecap di mana-mana sebagai barang asongan. Dan Delem adalah hamba kebudayaan di situ.
Sudah 75 tahun lebih sang tokoh yakni Jero Dalang Diah melakoni kehidupan berkutat dengan seni lukis kaca hingga kini masih dikerjakan di Nagasepaha. Beberapa periode proses pencarian hingga memunculkan perubahan-perubahan yang memberikan ruang bebas ekspresi. Seorang pelukis boleh saja menuangkan bentuk wayang dengan latar naturalistik, dekoratif atau datar satu warna atau mirip tenda Drama Gong di tahun 1970-an. Atau, tidak ada yang sakral. Beda seperti misalnya melihat perkembangan seni lukis Kamasan yang tidak mau keluar dari pakem tema maupun bentuk.
Akhirnya kita berharap, akan ada orang peduli untuk mengkondisikan kebebasan kreasi ini untuk berkembang terus. Desa Nagasepaha terlalu jauh untuk jangkauan para turis yang sekadar ingin buah tangan untuk dibawa pulang ke negerinya, namun harapan kita lebih jauh dari hubungan semacam itu.
* i nyoman wirata
17 Februari 2008
14 Februari 2008
Gelar Pameran Lukisan Kaca untuk Bantu Korban Bencana Alam
Apa yang dilakukan mahasiswa baru ITS terutama dari Jurusan Arsitektur untuk membantu korban bencana alam, patut dijadikan contoh. Kenapa? Dengan keterampilannya melukis di atas kaca, mereka akan memamerkan hasil lukisan dari mata kuliah Estetika Rupa itu untuk dijual dan hasilnya akan disumbangkan untuk korban bencana alam di Jatim.
Rektorat ITS, ITS Online - �Pameran lukisan kaca ini, selain apresiasi dari mata kuliah yang telah kami tempuh juga bertujuan untuk menggali dana bagi korban bencana alam di Jatim. Ada seratus lebih lukisan yang siap dipamerkan, semuanya hasil karya para mahasiswa arsitektur yang duduk di tahun pertama,� kata Danny Mahardika Wiyono Putra, Ketua Kegiatan Pameran tersebut, Senin (30/1) siang.
Dikatakannya, pameran pertama akan digelar pada 1 hingga 4 Februari di gedung Rektorat ITS, selanjutnya pameran akan dilanjutkan pada 13-17 Februari di Plasa Dokter Angka, juga masih di lingkungan kampus ITS. �Kami berharap banyak warga kampus dan para tamu yang berkunjung ke ITS tertarik dan berkenan memiliki lukisan-lukisan ini. Harga yang kami patok tidak terlalu mahal hanya Rp 300 ribu untuk ukuran lukisan kaca 70 x 50 cm. Dana yang terhimpun setelah sebagian diserahkan kepada para mahasiswa untuk mengganti biaya pembuatan akan diserahkan uintuk korban bencana alam,� katanya.
Danny yakin, pamerannya bakal sukses, mengingat dari seratus lebih lukisannya itu, 30 diantaranya sudah laku terjual. �Pameran ini baru pertama kali kami lakukan, tapi kami yakin bisa sukses mengingat sebelum dipamerkan sudah ada 30 lukisan terjual. Meski sudah terjual, sebagai apreasiasi kami tetap akan memamerkannya, siapa tahu ada yang mau membeli lebih tinggi lagi dari pemilik lukisan yang sudah membelinya terlebih dahulu,� katanya.
JAJAKI PASAR
Sementara itu, Dosen Pembina Mata Kuliah Estetika Rupa, Drs R. Bambang Gatot Soebroto mengatakan, niat memamerkan hasil karya dari para mahasiswanya itu terdorong untuk menjajaki pasar terhadap karya para mahasiswa sekaligus ajang apresiasi dan menunjukkan capaian dari hasil pemahaman mahasiswa terhadap matakuliah yang telah diajarkannya.
�Kami ingin menunjukkan kepada para mahasiswa bagaimana membuat karya yang baik dan punya nilai estetika dan komersial. Karena itu hasil dari penjualan ini sebagian kami kembalikan kepada mereka yang telah mengeluarkan dana untuk pembuatan, sedang sisanya akan diserahkan untuk korban bencana alam,� katanya.
Tujuan mengembalikan uang kepada para mahasiswa dari karya yang terjual itu, kata Gatot menjelaskan, untuk memotivasi mereka berkarya kembali dan harapannya mereka menyadari potensi yang ada dalam dirinya untuk membuat lagi dalam bentuk dan karya yang lain.
�Sedang dari segi pendidikan kami ingin menunjukkan kepada masyarakat, terutama masyarakat kampus tentang capaian dari mata kuliah estetika rupa, dimana didalamnya dipelajari tentang bagaimana mengasah kepekaan para mahasiswa terhadap garis, bentuk, rupa, warna, bidang dan tekstur. Hasil lukisan kaca ini merupakan capaian dari akumulasi materi-materi tersebut,�
Rektorat ITS, ITS Online - �Pameran lukisan kaca ini, selain apresiasi dari mata kuliah yang telah kami tempuh juga bertujuan untuk menggali dana bagi korban bencana alam di Jatim. Ada seratus lebih lukisan yang siap dipamerkan, semuanya hasil karya para mahasiswa arsitektur yang duduk di tahun pertama,� kata Danny Mahardika Wiyono Putra, Ketua Kegiatan Pameran tersebut, Senin (30/1) siang.
Dikatakannya, pameran pertama akan digelar pada 1 hingga 4 Februari di gedung Rektorat ITS, selanjutnya pameran akan dilanjutkan pada 13-17 Februari di Plasa Dokter Angka, juga masih di lingkungan kampus ITS. �Kami berharap banyak warga kampus dan para tamu yang berkunjung ke ITS tertarik dan berkenan memiliki lukisan-lukisan ini. Harga yang kami patok tidak terlalu mahal hanya Rp 300 ribu untuk ukuran lukisan kaca 70 x 50 cm. Dana yang terhimpun setelah sebagian diserahkan kepada para mahasiswa untuk mengganti biaya pembuatan akan diserahkan uintuk korban bencana alam,� katanya.
Danny yakin, pamerannya bakal sukses, mengingat dari seratus lebih lukisannya itu, 30 diantaranya sudah laku terjual. �Pameran ini baru pertama kali kami lakukan, tapi kami yakin bisa sukses mengingat sebelum dipamerkan sudah ada 30 lukisan terjual. Meski sudah terjual, sebagai apreasiasi kami tetap akan memamerkannya, siapa tahu ada yang mau membeli lebih tinggi lagi dari pemilik lukisan yang sudah membelinya terlebih dahulu,� katanya.
JAJAKI PASAR
Sementara itu, Dosen Pembina Mata Kuliah Estetika Rupa, Drs R. Bambang Gatot Soebroto mengatakan, niat memamerkan hasil karya dari para mahasiswanya itu terdorong untuk menjajaki pasar terhadap karya para mahasiswa sekaligus ajang apresiasi dan menunjukkan capaian dari hasil pemahaman mahasiswa terhadap matakuliah yang telah diajarkannya.
�Kami ingin menunjukkan kepada para mahasiswa bagaimana membuat karya yang baik dan punya nilai estetika dan komersial. Karena itu hasil dari penjualan ini sebagian kami kembalikan kepada mereka yang telah mengeluarkan dana untuk pembuatan, sedang sisanya akan diserahkan untuk korban bencana alam,� katanya.
Tujuan mengembalikan uang kepada para mahasiswa dari karya yang terjual itu, kata Gatot menjelaskan, untuk memotivasi mereka berkarya kembali dan harapannya mereka menyadari potensi yang ada dalam dirinya untuk membuat lagi dalam bentuk dan karya yang lain.
�Sedang dari segi pendidikan kami ingin menunjukkan kepada masyarakat, terutama masyarakat kampus tentang capaian dari mata kuliah estetika rupa, dimana didalamnya dipelajari tentang bagaimana mengasah kepekaan para mahasiswa terhadap garis, bentuk, rupa, warna, bidang dan tekstur. Hasil lukisan kaca ini merupakan capaian dari akumulasi materi-materi tersebut,�
Melukis Tidak Hanya di Atas Kanvas
Dalam sambutannya, Soekarwo mengatakan, lukisan selain bisa dijadikan suatu ekspresi jiwa juga bisa menjadikan industri. “Seperti halnya di Ubud Bali yang menyediakan lahan khusus bagi pelukis-pelukis dari seluruh penjuru negeri yang ingin mencari inspirasi. Di sana kesenian itu bisa dijadikan lahan industri yang menghasilkan keuntungan bagi pelukisnya dan daerahnya,” tuturnya.
Menurut Hadi Koco, melukis diatas kaca memang memerlukan ketlatenan dan teknik yang tinggi selain itu juga hasilnya akan terlihat lebih tajam dan jelas dari pada melukis di atas kanvas.
Dikatakan Hadi, melukis kaca akan sangat berbeda dengan melukis di atas kanvas, kalau melukis kaca dilakukannya secara terbalik dan mengerjakan obyek dahulu baru kemudian backgroundnya. Dengan media kaca ini membuat lukisan yang dihasilkan akan lebih tajam dan jelas.
Dalam pameran ini, Hadi Koco banyak menampilkan lukisan dengan pesona yang naturalis. “Dengan pameran ini dia berharap lukisan kaca akan dapat disejajarkan dengan lukisan kanvas dan masyarakat lebih menyukai lukisan ini,” harapnya.
Sedangkan lukisan Andi Prayitno lebih banyak menggambarkan alam dan realitas sosial, “Dari alam saya banyak belajar dan merenung serta bisa menciptakan imajinasi,” katanya.
Disamping itu, Seorang kurator Supar Pakis mengatakan, dalam karya yang dipamerkan kedua pelukis itu ingin menunjukkan keunikan yang dimiliki dan menjadikan lukisan kaca sebagai suatu indentitas. Dengan identitas itu diharapkan dapat memberikan dorongan motivasi eksplorasi baik media maupun bahasa rupa.
Lukisan kaca ini pada awalnya banyak berkembang di Indonesia terutama Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lukisan kaca dapat menjadi daya hias atau pesona di setiap interior bangunan dan dijadikan semacam status sosial tertentu. Seiring dengan perkembangan seni rupa di Indonesia, lukisan kaca tidak lagi sebagai seni terapan tapi juga sudah mengarah pada seni murni. *(cr1)
Menurut Hadi Koco, melukis diatas kaca memang memerlukan ketlatenan dan teknik yang tinggi selain itu juga hasilnya akan terlihat lebih tajam dan jelas dari pada melukis di atas kanvas.
Dikatakan Hadi, melukis kaca akan sangat berbeda dengan melukis di atas kanvas, kalau melukis kaca dilakukannya secara terbalik dan mengerjakan obyek dahulu baru kemudian backgroundnya. Dengan media kaca ini membuat lukisan yang dihasilkan akan lebih tajam dan jelas.
Dalam pameran ini, Hadi Koco banyak menampilkan lukisan dengan pesona yang naturalis. “Dengan pameran ini dia berharap lukisan kaca akan dapat disejajarkan dengan lukisan kanvas dan masyarakat lebih menyukai lukisan ini,” harapnya.
Sedangkan lukisan Andi Prayitno lebih banyak menggambarkan alam dan realitas sosial, “Dari alam saya banyak belajar dan merenung serta bisa menciptakan imajinasi,” katanya.
Disamping itu, Seorang kurator Supar Pakis mengatakan, dalam karya yang dipamerkan kedua pelukis itu ingin menunjukkan keunikan yang dimiliki dan menjadikan lukisan kaca sebagai suatu indentitas. Dengan identitas itu diharapkan dapat memberikan dorongan motivasi eksplorasi baik media maupun bahasa rupa.
Lukisan kaca ini pada awalnya banyak berkembang di Indonesia terutama Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lukisan kaca dapat menjadi daya hias atau pesona di setiap interior bangunan dan dijadikan semacam status sosial tertentu. Seiring dengan perkembangan seni rupa di Indonesia, lukisan kaca tidak lagi sebagai seni terapan tapi juga sudah mengarah pada seni murni. *(cr1)
Gilap bakat pelukis muda
Glass Gallery yang menjual lukisan kaca turut memberi peluang kepada pelukis-pelukis muda untuk mengembangkan idea segar mereka.
SEBAHAGIAN koleksi di Glass Gallery turut mendapat sentuhan daripada pelukis muda.
“GLASS Gallery bukan sekadar mempamerkan koleksi lukisan kaca yang cantik tetapi pada masa yang sama, membantu dan membuka peluang kepada pelukis muda dan baru untuk mencipta nama dalam dunia seni.
“Selain Ziehan yang menjadi pelukis sepenuh masa di sini, kami turut dibantu oleh pelukis-pelukis separuh masa dan pelajar seni lukis. Cuba anda lihat, logo yang tertera pada pinggan ini dihasilkan oleh pelajar seni lukis,” ujar Pengarah Eksekutif, Glass Galllery, Mahani Amat.
Kata Mahani, tujuan menggunakan khidmat pelukis muda adalah sebagai tanda sokongan dan bantuan kepada mereka yang baru mula bertatih dalam bidang seni lukis ini.
Lazimnya, segelintir pelukis baru tidak mempunyai modal atau pengalaman yang secukupnya untuk membuka sebuah galeri. Justeru, di Glass Gallery, setiap lukisan kaca yang dilakarkan oleh mereka akan dijual dan dipamerkan di sini.
“Jangan anggap pelukis muda dan baru tidak berbakat dan kreatif. Hakikatnya, pelukis muda banyak melahirkan idea dan seni yang segar. Malah, pelukis baru masih boleh dibentuk dan bakal menjadi pelukis profesional, sekiranya mereka diberi peluang.
“Saya hanya inginkan pelukis baru sahaja. Pelukis yang sudah ada nama atau profesional sudah mampu menjual produk dengan label mereka sendiri,” katanya.
NORZIEHAN Abdul Rahim merupakan pelukis tetap di Glass Gallery.
Sementara itu, pelukis tetap Glass Gallery, Norziehan Abdul Rahim, 27, memberitahu, Glass Gallery mampu menerima tempahan lukisan kaca dalam kuantiti yang banyak. Selain memiliki tenaga pelukis yang berbakat dalam menghasilkan corak, Glass Gallery juga mempunyai kilang di beberapa buah negeri.
“Pelanggan boleh menempah lukisan kaca untuk dihadiahkan kepada para tetamu. Pemberian cenderamata kepada para tetamu, sudah menjadi trend pada masa kini,” ujarnya yang lebih mesra dengan panggil Ziehan.
“Saya pernah melihat lukisan kaca dari luar negara seperti di Amerika Syarikat dan Sweden tetapi ia masih tidak sama dengan lukisan yang dihasilkan di Glass Gallery,” kata Mahani yang pernah menjual lukisan kaca berharga RM1,000.
Menurutnya, Glass Gallery menggunakan konsep mesra pelanggan. Pelanggan boleh memberikan idea dan menggambarkan lukisan yang dikehendaki kepada pihak galeri.
“Segala-galanya mudah di Glass Gallery, pelanggan hanya datang ke sini dengan membawa idea, konsep dan corak yang dikehendaki. Pelukis galeri akan membantu memberi pandangan dan jenis lukisan yang sesuai.
“Malah, pelanggan boleh menyatakan tema mereka dan kami akan memikirkan motif yang sepadan dengan majlis,” ujar Ziehan yang sentiasa membuat kajian dan merujuk buku untuk mendapatkan lakaran yang menarik.
SEBAHAGIAN koleksi di Glass Gallery turut mendapat sentuhan daripada pelukis muda.
“GLASS Gallery bukan sekadar mempamerkan koleksi lukisan kaca yang cantik tetapi pada masa yang sama, membantu dan membuka peluang kepada pelukis muda dan baru untuk mencipta nama dalam dunia seni.
“Selain Ziehan yang menjadi pelukis sepenuh masa di sini, kami turut dibantu oleh pelukis-pelukis separuh masa dan pelajar seni lukis. Cuba anda lihat, logo yang tertera pada pinggan ini dihasilkan oleh pelajar seni lukis,” ujar Pengarah Eksekutif, Glass Galllery, Mahani Amat.
Kata Mahani, tujuan menggunakan khidmat pelukis muda adalah sebagai tanda sokongan dan bantuan kepada mereka yang baru mula bertatih dalam bidang seni lukis ini.
Lazimnya, segelintir pelukis baru tidak mempunyai modal atau pengalaman yang secukupnya untuk membuka sebuah galeri. Justeru, di Glass Gallery, setiap lukisan kaca yang dilakarkan oleh mereka akan dijual dan dipamerkan di sini.
“Jangan anggap pelukis muda dan baru tidak berbakat dan kreatif. Hakikatnya, pelukis muda banyak melahirkan idea dan seni yang segar. Malah, pelukis baru masih boleh dibentuk dan bakal menjadi pelukis profesional, sekiranya mereka diberi peluang.
“Saya hanya inginkan pelukis baru sahaja. Pelukis yang sudah ada nama atau profesional sudah mampu menjual produk dengan label mereka sendiri,” katanya.
NORZIEHAN Abdul Rahim merupakan pelukis tetap di Glass Gallery.
Sementara itu, pelukis tetap Glass Gallery, Norziehan Abdul Rahim, 27, memberitahu, Glass Gallery mampu menerima tempahan lukisan kaca dalam kuantiti yang banyak. Selain memiliki tenaga pelukis yang berbakat dalam menghasilkan corak, Glass Gallery juga mempunyai kilang di beberapa buah negeri.
“Pelanggan boleh menempah lukisan kaca untuk dihadiahkan kepada para tetamu. Pemberian cenderamata kepada para tetamu, sudah menjadi trend pada masa kini,” ujarnya yang lebih mesra dengan panggil Ziehan.
“Saya pernah melihat lukisan kaca dari luar negara seperti di Amerika Syarikat dan Sweden tetapi ia masih tidak sama dengan lukisan yang dihasilkan di Glass Gallery,” kata Mahani yang pernah menjual lukisan kaca berharga RM1,000.
Menurutnya, Glass Gallery menggunakan konsep mesra pelanggan. Pelanggan boleh memberikan idea dan menggambarkan lukisan yang dikehendaki kepada pihak galeri.
“Segala-galanya mudah di Glass Gallery, pelanggan hanya datang ke sini dengan membawa idea, konsep dan corak yang dikehendaki. Pelukis galeri akan membantu memberi pandangan dan jenis lukisan yang sesuai.
“Malah, pelanggan boleh menyatakan tema mereka dan kami akan memikirkan motif yang sepadan dengan majlis,” ujar Ziehan yang sentiasa membuat kajian dan merujuk buku untuk mendapatkan lakaran yang menarik.
Lukisan Kaca Tak Sepopuler Kanvas
YOGYAKARTA - Lukisan kaca tidak sepopuler seperti lukisan kanvas dan pada umumnya kualitas pengerjaannya tidak sedemikian canggih dan naif. Selain itu, material dasarnya, yaitu cat dan kaca, yang mudah pecah serta harganya murah sehingga harga jualnya pun murah.
''Namun, perkembangan akhir-akhir ini lukisan kaca mulai memperoleh apresiasi dari masyarakat penggemar baik lokal maupun asing,'' ujar pengajar pada Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanagara Drs Eddy Hadi Waluyo MHum (71) ketika menyampaikan disertasinya untuk memperoleh derajat doktor Ilmu Budaya (pengkajian seni pertunjukan dan seni rupa) dari UGM Yogyakarta.
Pada ujian promosi di Fakultas Pascasarjana UGM kemarin, promovendus dinyatakan lulus dengan predikat cum laude.
Bertindak sebagai promotor adalah Prof Dr RM Soedarsono MA dengan kopromotor Prof Dr T Ibrahim Alfian MA.
Menurut keterangan Eddy, penelitian lukisan kaca itu dibuat karena kelangkaan perhatian para pemerhati seni terhadap jenis lukisan yang masih dianggap sebagai seni pinggiran.
Banyak Kejujuran
Akan tetapi dia beranggapan, di balik tampilannya yang naif, cerah, sederhana, segar, dan kadangkala juga jenaka itu sebenarnya lukisan kaca mengungkapkan banyak kejujuran dan ajakan kearifan baik vertikal maupun horizontal.
Selain itu, lukisan kaca kita juga sarat dengan kandungan budaya lokal.
Karena itu, agar lukisan kaca di Indonesia tetap ada, Eddy menyarankan, seyogianya ada upaya-upaya berbagai pihak baik swasta maupun pemerintah untuk meningkatkan frekuensi pameran, menerbitkan publikasi, menginventarisasi dan mememetakan, menyusun koleksi, serta melakukan mediasi dengan para peminat.
Begitu pula menyelenggarakan forum kajian lewat diskusi dan seminar dengan para budayawan dan pengamat serta pelukis, mengadakan lokakarya dengan para pelukis kaca rakyat agar mereka paham bagaimana merancang bentuk yang masih bernuansa tradisional serta meramu dan memadukan warna agar dapat memperoleh tampilan yang lebih menarik serta serasi.
Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah seyogianya memiliki ruang pamer khusus untuk lukisan kaca, seperti galeri atau museum.
Dengan demikian, di mata masyarakat lukisan kaca akan memperoleh pula apresiasi yang sama dengan cabang seni rupa lain. (P12-20j)
''Namun, perkembangan akhir-akhir ini lukisan kaca mulai memperoleh apresiasi dari masyarakat penggemar baik lokal maupun asing,'' ujar pengajar pada Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanagara Drs Eddy Hadi Waluyo MHum (71) ketika menyampaikan disertasinya untuk memperoleh derajat doktor Ilmu Budaya (pengkajian seni pertunjukan dan seni rupa) dari UGM Yogyakarta.
Pada ujian promosi di Fakultas Pascasarjana UGM kemarin, promovendus dinyatakan lulus dengan predikat cum laude.
Bertindak sebagai promotor adalah Prof Dr RM Soedarsono MA dengan kopromotor Prof Dr T Ibrahim Alfian MA.
Menurut keterangan Eddy, penelitian lukisan kaca itu dibuat karena kelangkaan perhatian para pemerhati seni terhadap jenis lukisan yang masih dianggap sebagai seni pinggiran.
Banyak Kejujuran
Akan tetapi dia beranggapan, di balik tampilannya yang naif, cerah, sederhana, segar, dan kadangkala juga jenaka itu sebenarnya lukisan kaca mengungkapkan banyak kejujuran dan ajakan kearifan baik vertikal maupun horizontal.
Selain itu, lukisan kaca kita juga sarat dengan kandungan budaya lokal.
Karena itu, agar lukisan kaca di Indonesia tetap ada, Eddy menyarankan, seyogianya ada upaya-upaya berbagai pihak baik swasta maupun pemerintah untuk meningkatkan frekuensi pameran, menerbitkan publikasi, menginventarisasi dan mememetakan, menyusun koleksi, serta melakukan mediasi dengan para peminat.
Begitu pula menyelenggarakan forum kajian lewat diskusi dan seminar dengan para budayawan dan pengamat serta pelukis, mengadakan lokakarya dengan para pelukis kaca rakyat agar mereka paham bagaimana merancang bentuk yang masih bernuansa tradisional serta meramu dan memadukan warna agar dapat memperoleh tampilan yang lebih menarik serta serasi.
Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah seyogianya memiliki ruang pamer khusus untuk lukisan kaca, seperti galeri atau museum.
Dengan demikian, di mata masyarakat lukisan kaca akan memperoleh pula apresiasi yang sama dengan cabang seni rupa lain. (P12-20j)
Separuh Lebih Lukisan Kaca Terjual di Hari Pembukaan Pameran
Separuh Lebih Lukisan Kaca Terjual di Hari Pembukaan Pameran
presiasi warga kampus ITS terhadap lukisan cukup besar. Ini terbukti dalam acara pembukaan pameran lukisan kaca hasil karya mahasiswa Arsitektur angkatan 2005, Rabu siang (1/2), lebih dari separuh dari 104 lukisan yang dipamerkan, laku terjual. Selain sebagai apresiasi para mahasiswa yang mengambil mata kuliah Estetika Rupa, pameran seni rupa ini juga untuk membantu korban bencana alam di Jatim.
Kampus ITS, ITS Online - Apresiasi warga kampus ITS terhadap lukisan cukup besar. Ini terbukti dalam acara pembukaan pameran lukisan kaca hasil karya mahasiswa Arsitektur angkatan 2005, Rabu siang (1/2), lebih dari separuh dari 104 lukisan yang dipamerkan, laku terjual.
Selain sebagai apresiasi para mahasiswa yang mengambil mata kuliah Estetika Rupa, pameran seni rupa ini juga untuk membantu korban bencana alam di Jatim. Dalam sambutan pembukaannya, Pembantu Rektor III ITS, Dr Ir Achmad Jazidie MEng mengatakan, kegiatan pameran seperti ini perlu terus dilakukan dengan mengusung tema-tema berbeda. “ITS akan memfasilitasi semua kegiatan yang berkait dengan kreativitas mahasiswa. Jika perlu diagendakan setahun dua kali tiap akhir semester,” katanya.
Tentu, bukan hanya terbatas pada pameran-pameran lukisan hasil karya mahasiswa dari Arsitektur, seperti yang saat ini dilakukan, tapi terbuka luas untuk semua mahasiswa dari berbagai jurusan. “Ini penting agar masyarakat juga mengetahui berbagai kegiatan dan aktivitas serta kreativitas mahasiswa ITS,” katanya.
Jazidie kemudian menjelaskan tentang makna dari tema pameran lukisan kaca yang diusung panitia, Berani Ngaca. “Tema ini punya makna sangat dalam. Jika kita berani melihat kemampuan dan potensi diri yang bisa dilakukan melalui media kaca atau cermin, kita bisa menjadi manusia yang tahu diri serta dapat menempatkan diri dengan benar di tengah-tengah masyarakat atau sebagai mahasiswa secara sadar tahu akan potensi diri yang harus dikembangkannya,” katanya.
Sementara Dra Lubna Algadrie MA, Ketua UPT Bahasa ITS, yang membeli tiga lukisan sekaligus dalam acara pembukaan itu mengatakan, keinginannya memiliki lukisan para mahasiswa itu lebih pada untuk memberikan apresiasi kepada para mahasiswa disamping untuk tujuan membantu korban bencana alam. “Saya sangat kagum dengan lukisan-lukisan yang dipamerkan ini, dan secara substansial tak kalah menariknya dengan pelukis-pelukis terkenal. Proses kreatif inilah yang harus dinilai dan dihargai dengan cara mengapresiasi lewat memiliki lukisan-lukisan mereka,” katanya.
Beberapa mahasiswa yang lukisannya laku terjual, saat diminta komentar mengaku merasa bangga dengan apa yang telah dihasilkannya lewat karya lukisan kaca. “Saya memang baru pertama kali melukis dengan media kaca dan ternyata jauh lebih sulit, karena cara melukisnya terbalik. Tapi dengan telah terjualnya hasil karya saya, saya bisa berbangga dengan apa yang telah dihasilkan,” kata Danny Mahardika Wiyono Putra, yang juga ketua kegiatan pameran itu.
Dosen Pembina Mata Kuliah Estetika Rupa, Drs R Bambang Gatot Soebroto mengatakan, niat memamerkan hasil karya dari para mahasiswanya itu terdorong untuk menjajaki pasar terhadap karya para mahasiswa sekaligus ajang apresiasi dan menunjukkan capaian dari hasil pemahaman mahasiswa terhadap matakuliah yang telah diajarkannya.
“Ternyata kami terkejut dengan apresiasi para sivitas akademika ITS yang tidak hanya bisa menikmati dan menilai sebuah karya mahasiswa, tapi juga berminat untuk memiliki,” katanya.
Dikatakannya, mata kuliah Estetika Rupa, bertujuan antara lain bagaimana para mahasiswa dapat melatih diri di dalam memahami kepekaan-kepekaan didalam mewujudkan sesuatu yang mungkin abstrak menjadi sebuah kenyataan. “Dalam kapasitas tujuan itulah maka para mahasiswa dituntut untuk menggambar atau melukis, sehingga melalui gambar atau lukisan itu akan tercapai kepekaan mahasiswa akan garis, bentuk, rupa, warna, bidang, tekstur dan lainnya. Nah lukisan kaca ini merupakan salah satu capaian dari akumulasi materi-materi yang telah diberikan didalam mata kuliah estetika rupa,” katanya. (Humas/rin)
presiasi warga kampus ITS terhadap lukisan cukup besar. Ini terbukti dalam acara pembukaan pameran lukisan kaca hasil karya mahasiswa Arsitektur angkatan 2005, Rabu siang (1/2), lebih dari separuh dari 104 lukisan yang dipamerkan, laku terjual. Selain sebagai apresiasi para mahasiswa yang mengambil mata kuliah Estetika Rupa, pameran seni rupa ini juga untuk membantu korban bencana alam di Jatim.
Kampus ITS, ITS Online - Apresiasi warga kampus ITS terhadap lukisan cukup besar. Ini terbukti dalam acara pembukaan pameran lukisan kaca hasil karya mahasiswa Arsitektur angkatan 2005, Rabu siang (1/2), lebih dari separuh dari 104 lukisan yang dipamerkan, laku terjual.
Selain sebagai apresiasi para mahasiswa yang mengambil mata kuliah Estetika Rupa, pameran seni rupa ini juga untuk membantu korban bencana alam di Jatim. Dalam sambutan pembukaannya, Pembantu Rektor III ITS, Dr Ir Achmad Jazidie MEng mengatakan, kegiatan pameran seperti ini perlu terus dilakukan dengan mengusung tema-tema berbeda. “ITS akan memfasilitasi semua kegiatan yang berkait dengan kreativitas mahasiswa. Jika perlu diagendakan setahun dua kali tiap akhir semester,” katanya.
Tentu, bukan hanya terbatas pada pameran-pameran lukisan hasil karya mahasiswa dari Arsitektur, seperti yang saat ini dilakukan, tapi terbuka luas untuk semua mahasiswa dari berbagai jurusan. “Ini penting agar masyarakat juga mengetahui berbagai kegiatan dan aktivitas serta kreativitas mahasiswa ITS,” katanya.
Jazidie kemudian menjelaskan tentang makna dari tema pameran lukisan kaca yang diusung panitia, Berani Ngaca. “Tema ini punya makna sangat dalam. Jika kita berani melihat kemampuan dan potensi diri yang bisa dilakukan melalui media kaca atau cermin, kita bisa menjadi manusia yang tahu diri serta dapat menempatkan diri dengan benar di tengah-tengah masyarakat atau sebagai mahasiswa secara sadar tahu akan potensi diri yang harus dikembangkannya,” katanya.
Sementara Dra Lubna Algadrie MA, Ketua UPT Bahasa ITS, yang membeli tiga lukisan sekaligus dalam acara pembukaan itu mengatakan, keinginannya memiliki lukisan para mahasiswa itu lebih pada untuk memberikan apresiasi kepada para mahasiswa disamping untuk tujuan membantu korban bencana alam. “Saya sangat kagum dengan lukisan-lukisan yang dipamerkan ini, dan secara substansial tak kalah menariknya dengan pelukis-pelukis terkenal. Proses kreatif inilah yang harus dinilai dan dihargai dengan cara mengapresiasi lewat memiliki lukisan-lukisan mereka,” katanya.
Beberapa mahasiswa yang lukisannya laku terjual, saat diminta komentar mengaku merasa bangga dengan apa yang telah dihasilkannya lewat karya lukisan kaca. “Saya memang baru pertama kali melukis dengan media kaca dan ternyata jauh lebih sulit, karena cara melukisnya terbalik. Tapi dengan telah terjualnya hasil karya saya, saya bisa berbangga dengan apa yang telah dihasilkan,” kata Danny Mahardika Wiyono Putra, yang juga ketua kegiatan pameran itu.
Dosen Pembina Mata Kuliah Estetika Rupa, Drs R Bambang Gatot Soebroto mengatakan, niat memamerkan hasil karya dari para mahasiswanya itu terdorong untuk menjajaki pasar terhadap karya para mahasiswa sekaligus ajang apresiasi dan menunjukkan capaian dari hasil pemahaman mahasiswa terhadap matakuliah yang telah diajarkannya.
“Ternyata kami terkejut dengan apresiasi para sivitas akademika ITS yang tidak hanya bisa menikmati dan menilai sebuah karya mahasiswa, tapi juga berminat untuk memiliki,” katanya.
Dikatakannya, mata kuliah Estetika Rupa, bertujuan antara lain bagaimana para mahasiswa dapat melatih diri di dalam memahami kepekaan-kepekaan didalam mewujudkan sesuatu yang mungkin abstrak menjadi sebuah kenyataan. “Dalam kapasitas tujuan itulah maka para mahasiswa dituntut untuk menggambar atau melukis, sehingga melalui gambar atau lukisan itu akan tercapai kepekaan mahasiswa akan garis, bentuk, rupa, warna, bidang, tekstur dan lainnya. Nah lukisan kaca ini merupakan salah satu capaian dari akumulasi materi-materi yang telah diberikan didalam mata kuliah estetika rupa,” katanya. (Humas/rin)
Sejarah Lukisan Kaca Cirebon
Konon sejak abad ke 17 Masehi, Lukisan Kaca telah dikenal di Cirebon, bersamaan dengan berkembanganya Agama Islam di Pula Jawa.Pada jamannya pemerintahan Panembahan Ratu di Cirebon, Lukisan Kaca sangat terkenal sebagai media dakwah Islam yang berupa Lukisan Kaca Kaligrafi dan berupa Lukisan Kaca Wayang.
Sejalan dengan perkembangan waktu, maka perkembangan Lukisan Kaca masih terasa eksistensinya sebagai Cinderamata Spesifik Khas Cirebon. Mengapa Lukisan Kaca disebut sebagai produk spesifik ? hal itu dikarenakan Lukisan Kaca Cirebon dilukis dengan teknik melukis terbalik, kaya akan gradasi warna dan harmonisasi nuansa dekoratif serta menampilkan ornamen atau ragam hias Motif Mega Mendung dan Wadasan yang kita kenal sebagai Motif Batik Cirebon. Selanjutnya perkembangan Lukisan Kaca Cirebon boleh dikatakan "Booming" ketika pada kurun waktu 1980-1990 Sang Maestro Lukisan Kaca Cirebon TOTO SUNU menggebrak dengan Lukisan Kaca Super Besar bahkan tidak hanya besar ukurannya tetapi Nuansa Dekoratifnya demikian hidup dan terlihat sangat menawan. Banyak sekali karya-karya TOTO SUNU yang menjadi koleksi para Kolektor Lukisan, sehingga sangatlah wajar apabila Gaya dan Teknik lukisannya menjadi kiblat para Pelukis Muda hingga saat ini.
Kalau Toto Sunu mengusung Gaya Dekoratif Modern, maka lain lagi halnya dengan RASTIKA yang mengusung Gaya Dekoratif Klasik. Kedua maestro Lukisan Kaca Cirebon tersebut memiliki kekuatan yang sama dalam penuangan kreatifitasnya, justeru dengan perbedaan pada Gaya yang dianutnya membuat Lukisan Kaca Cirebon terkenal diseantero Nusantara bahkan Mancanegara. Kedua Kutub dengan Gaya berbeda telah melahirkan puluhan Pelukis Muda yang berbakat dalam dunia seni lukis kaca bahkan dari kedua tokoh tersebut sangat menentukan dalam melahirkan regenerasi Pelukis Kaca Cirebon.
Terlepas dari semua itu, saat ini Lukisan Kaca Cirebon banyak dijadikan sebagai objek pembinaan dan pengembangan program peningkatan Usaha Produk Etnik yang diharapkan dapat mendongkrak Indeks Daya Beli. Beberapa diantaranya Lukisan Kaca Cirebon saat ini diarahkan kepada pembuatan produk massal yang lebih memungkinkan dalam peningkatan kapasitas produksi, peningkatan teknik produksi berorientasi pasar serta peningkatan diversifikasi produk untuk melahirkan Produk Cinderamata yang berbasis etnik.Seperti tak pernah kenal lelah Pemerintah Kota Cirebon melalui Disperindag dan Dekranasda Kota Cirfebon terus berupaya untuk meningkatkan Perkembangan Lukisan Kaca Cirebon.
Kendala klasik yang menjadi halangan perkembangan Lukisan Kaca Cirebon adalah perluasan pangsa pasar, karena tidaklah mudah mengalihkan masyarakat konsumen dari kebutuhan secunder ke kebutuhan primer. Kuncinya hanyalah ada pada ketersediaan produk Lukisan Kaca yang bermutu baik, berharga murah dan terjangkau , serta mudah dibawa dan mudah mencarinya. Hal ini membutuhkan keseriusan, ketelatenan dan kesabaran dalam menyikapi perkembangan Lukisan Kaca Cirebon.
Akhirnya , setelah sekian abad Lukisan Kaca Cirebon dikenal orang, masih banyak yang harus dilakukan dalam mempromosikan produk tersebut. Salah satunya melalui Promosi Internet yang kini menjadi sasaran dalam dunia perdagangan produk baik seni maupun kerajinan, sementara para pengguna internet telah mewabah diseantero jagat ini dan bukan mustahil Promosi Internet lebih banyak mamfaatnya bagi produsen barang seni dan kerajinan termasuk Produk Lukisan Kaca Cirebon.
Sejalan dengan perkembangan waktu, maka perkembangan Lukisan Kaca masih terasa eksistensinya sebagai Cinderamata Spesifik Khas Cirebon. Mengapa Lukisan Kaca disebut sebagai produk spesifik ? hal itu dikarenakan Lukisan Kaca Cirebon dilukis dengan teknik melukis terbalik, kaya akan gradasi warna dan harmonisasi nuansa dekoratif serta menampilkan ornamen atau ragam hias Motif Mega Mendung dan Wadasan yang kita kenal sebagai Motif Batik Cirebon. Selanjutnya perkembangan Lukisan Kaca Cirebon boleh dikatakan "Booming" ketika pada kurun waktu 1980-1990 Sang Maestro Lukisan Kaca Cirebon TOTO SUNU menggebrak dengan Lukisan Kaca Super Besar bahkan tidak hanya besar ukurannya tetapi Nuansa Dekoratifnya demikian hidup dan terlihat sangat menawan. Banyak sekali karya-karya TOTO SUNU yang menjadi koleksi para Kolektor Lukisan, sehingga sangatlah wajar apabila Gaya dan Teknik lukisannya menjadi kiblat para Pelukis Muda hingga saat ini.
Kalau Toto Sunu mengusung Gaya Dekoratif Modern, maka lain lagi halnya dengan RASTIKA yang mengusung Gaya Dekoratif Klasik. Kedua maestro Lukisan Kaca Cirebon tersebut memiliki kekuatan yang sama dalam penuangan kreatifitasnya, justeru dengan perbedaan pada Gaya yang dianutnya membuat Lukisan Kaca Cirebon terkenal diseantero Nusantara bahkan Mancanegara. Kedua Kutub dengan Gaya berbeda telah melahirkan puluhan Pelukis Muda yang berbakat dalam dunia seni lukis kaca bahkan dari kedua tokoh tersebut sangat menentukan dalam melahirkan regenerasi Pelukis Kaca Cirebon.
Terlepas dari semua itu, saat ini Lukisan Kaca Cirebon banyak dijadikan sebagai objek pembinaan dan pengembangan program peningkatan Usaha Produk Etnik yang diharapkan dapat mendongkrak Indeks Daya Beli. Beberapa diantaranya Lukisan Kaca Cirebon saat ini diarahkan kepada pembuatan produk massal yang lebih memungkinkan dalam peningkatan kapasitas produksi, peningkatan teknik produksi berorientasi pasar serta peningkatan diversifikasi produk untuk melahirkan Produk Cinderamata yang berbasis etnik.Seperti tak pernah kenal lelah Pemerintah Kota Cirebon melalui Disperindag dan Dekranasda Kota Cirfebon terus berupaya untuk meningkatkan Perkembangan Lukisan Kaca Cirebon.
Kendala klasik yang menjadi halangan perkembangan Lukisan Kaca Cirebon adalah perluasan pangsa pasar, karena tidaklah mudah mengalihkan masyarakat konsumen dari kebutuhan secunder ke kebutuhan primer. Kuncinya hanyalah ada pada ketersediaan produk Lukisan Kaca yang bermutu baik, berharga murah dan terjangkau , serta mudah dibawa dan mudah mencarinya. Hal ini membutuhkan keseriusan, ketelatenan dan kesabaran dalam menyikapi perkembangan Lukisan Kaca Cirebon.
Akhirnya , setelah sekian abad Lukisan Kaca Cirebon dikenal orang, masih banyak yang harus dilakukan dalam mempromosikan produk tersebut. Salah satunya melalui Promosi Internet yang kini menjadi sasaran dalam dunia perdagangan produk baik seni maupun kerajinan, sementara para pengguna internet telah mewabah diseantero jagat ini dan bukan mustahil Promosi Internet lebih banyak mamfaatnya bagi produsen barang seni dan kerajinan termasuk Produk Lukisan Kaca Cirebon.
Langganan:
Postingan (Atom)